February 2, 2016 Meredakan Emosi Anak

Meredakan Emosi Anak

Si kecil pernah nangis hingga mengamuk? Beberapa diantara mereka yang lebih besar bahkan melengkapi luapan emosi mereka dengan membanting atau melempar barang yang ada di dekat mereka, atau membanting-banting diri mereka sendiri ke lantai. Aduuuh pasti membingungkan sekali ya bila si kecil melakukan tindakan seperti ini. Sebenarnya tindakan si kecil meluapkan emosi secara berlebihan ini, bukanlah sesuatu yang terberi sejak lahir, sebab meskipun memang mungkin saja ada hal-hal tertentu dari sifat yang diturunkan secara genetis, namun pembentukan perilaku si kecil lebih terbentuk oleh interaksinya dengan lingkungan sekitarnya.
Anak-anak dengan luapan emosi yang berlebihan biasanya mempelajarinya dari lingkungannya. Mungkin tanpa orangtua sadari, orangtua kerap bertengkar di depan anak atau tanpa sadar salah satu orangtua sering menampilkan perilaku emosional di depan anak, bila bukan orangtua mungkin anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama. Ya, anak memang peniru ulung. Selain dari mencontoh, sikap anak yang meluapkan emosi secara berlebihan juha bisa terbentuk secara tidak sadar akibat dari pola asuh yang tidak konsisten dari orangtua. Banyak orangtua yang suka melarang anak melakukan sesuatu, atau menolak memberikan sesuatu namun bila anak kemudian menangis hingga berteriak-teriak, karena tidak tahan menghadapinya maka orangtua pun mengiyakan keinginan anak. Anak mempelajari ketidak konsistenan orangtua, anak paham betul bila “ditantang’ dengan tangisan meledak-ledak maka orangtua akan memenuhi keinginannya.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan orangtua menghadapi perilaku tantrum anak ?

1. Tarik nafas dan tenangkan diri Ayah dan Bunda. Tidak ada gunanya bila Anda terpancing emosi oleh sikap anak dan kemudian memarahi anak dengan keras, kasar apa lagi dengan kekerasan fisik. Sikap serupa itu justru akan semakin menstimulasi anak untuk mempertahankan sikap tentrum atau meledak-ledaknya itu.

2. Bersikap tegas. Bila anak melempar atau membanting-banting dirinya maka tahan anak untuk tidak melakukan hal itu lagi. Bicara dengan nada suara yang tegas dan perintahkan anak untuk berhenti melakukannya. Sentuh anak, tahan anak, lakukan sentuhan fisik dengan anak, jangan hanya berteriak-teriak membentak anak untuk berhenti. Rendahkan tubuh Anda dan tahan tangan atau badan anak.

3. Peluk anak dan tenangkan. Mungkin saja si kecil akan meronta-rontah, tetapi Anda sebagai orangtuanya tidak boleh kalah. Tetaplah peluk anak dengan tenang dan tenangkan anak. Memang bila anak usia 3 tahun atau lebih sudah agak sulit dilakukan, tetapi tetap bisa dicoba. Pindahkan anak dari tempat dimana ia meluapkan emosinya. Peluk dan tenangkan anak. Jangan mencoba mengalihkan perhatian anak pada mainan, buku apalagi televisi saat anak masih meluap emosinya karena anak tidak akan tertarik. Tenangkan terlebih dahulu.

4. Setelah emosi atau tangis anak reda, barulah ajak anak untuk melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya. Sebaiknya ajak anak melakukan kegiatan yang ia sukai dan menyenangkan baginya. Dampingi anak hingga anak benar-benar tenang. Ajak anak bermain, membaca buku atau kegiatan lain yang menenangkan.

5. Bila anak sudah cukup besar, setelah kondisi benar-benar tenang, Ayah dan Bunda bisa membahas kejadian itu dan menjelaskan pada anak mengapa tindakan itu tidak baik untuk dilakukannya dan apa yang seharusnya anak lakukan bila menginginkan sesuatu. 

Seru ya Ayah dan Bunda, menjadi orangtua memang membutuhkan ketrampilan dan ketenangan yang luar biasa. Tapi nikmatilah saja, sebab tanpa kita sadari masa-masa anak kita menjadi anak kecil juga tak akan lama, tak terasa mereka sudha menjadi remaja lalu dewasa. Nikmatikan segala polah tingkah mereka saat mereka masih kecil, yang penting terapkanlah pola asuh yang konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mersin escort sitesi - mersin escort bayan - escort mersin - mersin escort - www.mersinbakliyat.com