February 21, 2016 Menjadi Book Advisor itu Berarti Menjadi Berdaya

Menjadi Book Advisor itu Berarti Menjadi Berdaya

Hurriyatul Mazizah

Bismillaah..

Beberapa tahun silam, diawal-awal kerja di bank,, seorang kawan menyapa,
‘ukh, kok ga pernah pnelitian n nulis2 lagi sekarang?
Saya cuman nyengir, kasih senyum getir

Lain waktu, Ada juga yang baik hati ngasih info ‘ini nih, ada call for paper terbaru, buat umum, theme nya ini, deadline tanggal sekian, syaratnya ini, ini,ini.. Gampang kan..’

Saya pun cuman bisa say iyes..iyes.. Matur tenkyu yes.

Saat silaturahim ke dosen panutan pun, ditanya: ‘jadi bagaimana bukunya?’

Keselek. Speechless. Alasan apa buat ngeles. Ya sudah cuma cengangas cengenges.. : D

Hehe.. Ya bgitulah. Ada fase dimana dulu saya belum bisa move on dari dunia riset. Kerja tidak fokus. Karena masih tertidur dalam kenangan sbg mahasiswa.
Sekedar flashback, dulu di kampus sy memang hobi mengikuti berbagai lomba karya tulis, call for paper dan sejenisnya. Meskipun bukan tipikal mahasiswa yang disiplin dan tekun, rupanya doa serta kerja keras yang dipacu ‘the power of kepepet’ hampir selalu menjadi jurus andalan untuk membawa pulang penghargaan. Minimal hadiah tabungan
(dasar mahasiswa, perhitungan 😛 )

Nah, kembali lagi ke dunia kerja, setelah meluruskan niat yakni ingin berkontribusi nyata dgn mnjadi praktisi, saya berdamai dengan diri sendiri, dengan menyadari tanggung jawab yg ada di depan mata sbagai karyawan, obsesi menjadi akademisi sedikit demi sedikit luntur, karena terus berjibaku dengan rutinitas dunia kerja.
Meskipun tidak dipungkiri, seringkali saya dengan sengaja membuka akun beberapa teman yang sudah melanjutkan studinya, mendapat scholarship, kemudian mengabdi di kampusnya atau bahkan berkarir dengan cemerlang. Silau. Sampai tidak sanggup lagi memandang..hehe..

setelah menikah, slain sebagai karyawan, status saya bertambah menjadi istri, artinya tanggung jawab baru, amanah baru, terlebih kemudian berstatus sbg ibu, fase kegamangan pun dimulai, antara tetap bekerja diluar rumah atau resign. Singkat cerita, saya memilih mengundurkan diri dari perusahaan.
(Bagian menikah dan punya anak ini singkat dan padat aja ya. No drama. Biar ga mewek again tongue emoticon )

Lanjut ke tambahan status menjadi seorang bookadvisor. Iyap, selain sebagai istri dan ibu, status saya saat ini resmi terdaftar sbg bookadvisor mandira dian semesta atau yang biasa disebut MDS. Kalaulah boleh bertesti dan flashback lagi, jujur awal mula bergabung menjadi Bookadvisor ini dilatarbelakangi kegalauan menjelang resign, saya mulai berancang2 berbisnis. Namun bingung berbisnis apa. Kata para suhu bisnis, mulailah bisnis dari hobi. Karena jika menemui hambatan, tantangan atau bahkan kegagalan, qta tidak menyerah. Karena kita cinta dengan hobi itu. Kebetulan hobi saya dari dulu baca buku. Gayung bersambut, bersambut dengan kebutuhan mencari buku untuk ziya yang waktu itu belum genap berusia satu tahun. ternyata selain membeli buku, ada peluang dakwah sekaligus pluang bisnis yakni dengan bergabung sebagai bookadvisor. Dan memang betul, bisnis yang baik adalah bisnis yang dijalankan. benar saja, setelah dijalani, alhamdulillah pintu rezeki baru terbuka, kemudian mendapat saudari2 baru yang solihah dan cerdas, dan tentu saja ilmu dan wawasan baru juga diperoleh. Intinya bermanfaat dunia akhirat insyaAllah. 🙂
Bagi saya,Menjadi bookadvisor itu berarti menjadi berdaya.
Berdaya melawan kemalasan.
Berdaya mengajak kepada kebaikan.
Berdaya menerima kebenaran.
Berdaya tanpa menengadahkan tangan.
Berdaya ketika ada yang membutuhkan.
Seperti Ibunda aisyah yang cerdas dan seperti ibunda khadijah yang dermawan karena mereka berdaya.

********

Tentu tak mudah menjalani berbagai perubahan status tersebut. Setiap peran membawa tanggung jawab serta memiliki tantangannya masing2. proses dalam menjalani setiap fase kehidupan itu saya rasa ada benang merahnya. Apapun peran yang diemban, hampir pasti harus dimulai dengan niat yang baik, visi yang jelas, dan misi yang terarah.

Saat mahasiwa, jika goal nya ingin menjadi mahasiswa aktif dan prestatif, tentu saja, harus diniatkan bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban, bagian dari ibadah. Karena jelas, Allah meninggikan derajat orang berilmu.

Visi nya apa? Memberi manfaat melalui ilmu yang diperoleh. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan banyak manfaat.

Misi nya bagaimana? tekun, melawan kemalasan, mencegah kejumudan berpikir, dan seterusnya.

Pun saat menjadi karyawan, apa nawaitu bekerja?
Birrul walidain, dan meyakini menjemput rezeki juga merupakan bagian ibadah dan dakwah

Visinya apa?
Dakwah? Karir puncak? Harta? Atau sekedar aktualisasi diri? Harus jelas goal kita berkarir itu apa.

Misinya?
Tentu menjalankan fungsi dan tanggung jawab sesuai jobdesk dan aturan perusahaan.
Memberi kontribusi lebih sesuai kewenangan
dan seterusnya.

Dan Sebagai bookadvisor,
Apa niat awal bergabung? Nawaitu Ini yang harus terus menerus dimantain dan diluruskan. Meskipun niat awal skedar ingin berbisnis, perlahan saya menyadari bahwa menjadi seorang bookadvisor merupakan lahan dakwah dan amal jariyah. InsyaAllah.

Visi nya apa?
Visi jangka panjang, tentu ingin aktivitas membaca menjadi budaya masyarakat kita. Minimal menjadi kebiasaan di lingkup terkecil, keluarga sendiri. Bukankah kata paling awal dlm ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah ‘IQRO’?

Misinya apa?
Tentu terus menerus menebarkan virus membaca. Virus cinta ilmu. Membangun budaya tabayun (mencari kebenaran), dan seterusnya.
Implementasi misinya adalaahhh…
Punya target.. Rajin edukasi.. Rajin buka konsultasi.. rajin closing.. Minimal 1 hari 1konsumen, biar 2017 bisa goes to China cyyyn… (Korea gudbai byebye dulu tahun ini..edisi ga tega sama ziya n saldo hehe)
‪#‎eh‬.. 😛

Bgitu pula saat menjadi istri dan ibu.

Visi..

Misi…

Hmm.. Tiba2 jempol berhenti mengetik.

Sepertinya saya skip bagian ini. 😀
Sudah banyak tulisan, nasihat, reminder bagi saya pribadi dari para pakar rumah tangga dan parenting, tentang bagaimana seharusnya saya menjalani kedua peran mulia ini. Waktunya praktik. Bukan ditulis kembali.hehe.. Punten..

*Edisi kebangun tengah malem, belajar manajemen waktu (lagi) sambil baca buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *