February 18, 2016 Mengenalkan KONSEKWENSI pada anak

Mengenalkan KONSEKWENSI pada anak

Konsekwensi atau akibat dari suatu perbuatan adalah hal yang penting untk dikenalkan kepada anak, setelah anak usia 3 – 4 tahun dimana anak sudah bisa berkomunikasi dengan cukup baik. Mengapa penting mengenalkan konsekwensi?

Sejak kecil si anak harus belajar tentang akibat yang muncul dari suatu perilaku yang ia lakukan. Ada konsekwensi yang menyenangkan, ada juga konsekwensi yang kurang atau tidak menyenangkan. Konsekwensi yang menyenangkan, muncul bila anak melakukan perbuatan yang baik sebaliknya konsekwensi yang kurang atau tidak menyenangkan timbul bila anak melakukan perbuatan yang tidak diharapkan.

Konsekwensi bukan hukuman tetapi bentuk tindakan atau kejadian yang diberikan pada anak agar anak tidak mengulangi lagi hal yang tidak diharapkan itu. Konsekwensi adalah sesuatu yang sudah diberitahukan lebih dahulu kepada anak. Misalnya : “Bila anak menumpahkan minuman di sofa, maka anak harus membersihkannya sendiri” Keharusan membersihkan sendiri adalah konsekwensi, orangtua sudah memberitahukannya pada anak sejak sebelum perbuatan dilakukan. Hukuman biasanya sifatnya menimbulkan efek jera bukan karena anak tahu perbuatannya salah tetapi karena tidak mau menerima hukumannya. Beda ya.

Nah bagaimana mengenalkan konsekwensi pada si kecil?

1. Berhubungan dengan kesalahan yang dilakukan
Misalnya : anak menumpahkan minum di sofa.
Konsekwensi : anak harus membersihkan sofa yang kotor dan juga lantai yang basah.
Hal ini akan membuat anak tahu bahwa bila ia tanpa sengaja menumpahkan air maka ia harus membersihkannya.

2. Sesuai dengan keampuan anak.
Jangan membebani anak untuk melakukan konsekwensi seperti bila kita yang melakukannya. Anak berusia 4 – 5 tahun mengeringkan sofa tentulah tidak sebaik kita, tidak apa-apa yang penting anak tahu akibatnya. Bahkan kita bisa menggunakan momen ini untuk membuat anak belajarbagaimana mengeringkan lantai yang basah dengan baik, kain lap apa yang harus digunakan dan bagaimana caranya.

3. Berikan pengalaman belajar.
Biarkan anak belajar dari kesalahan- kesalahan yang dilakukannya. Biarkan anak belajar bagaimana membawa air dan tidak tumpah. Jangan kemudian karena menumpahkan air lalu orangtua selalu membawakan gelas minum si kecil. Biarkan si kecil belajar membentuk kemandiriannya.

4. Jaga harga diri anak.
nah, ini yang sering terlupa oleh kita. Orangtua sering menganggap anak masih kecil enggak ada urusannya dengan harga diri. Salah besar! Sejak kecil anak sudah punya harga diri karena itu anak bisa jadi pemalu dan penakut bila terus menerus mengalami “bullying’ pada harga dirinya. Hindari membentak–bentak anak, apalagi dengan menggunakan kata-kata kasar atau pukulan. Sebaliknya bila anak bisa mengerjakan konsekwensinya, berikan pujian meski tetap ingatkan perilakukan yang tidak diinginkan itu.

Bila kita mengajari anak tentang konsekwensi maka anak akan tumbuh besar menjadi manusia yang bertanggung jawab. Insyaallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *