June 19, 2015

Kisah Nabi Syuaib AS

Kisah Nabi Syuaib AS

Nabiku Idolaku

Penulis : Ika Rachmania

Melihat beberapa tayangan di televisi yang mengupas tentang beberapa kecurangan pedagang jajanan dalam meracik bahan demi meraih keuntungan yang lebih besar, membuat lebih berpikir ulang kalau ingin membeli makanan. Ada 2 dampak tayangan tersebut, yang pertama kita selaku konsumen harus lebih berhati – hati, yang kedua bisa menginspirasi pedagang yang curang lainnya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul akibat racikan berbahaya.

Dahulu kala terdapat kota bernama Madyan, diantara penduduknya rakus pada harta dan menghalalkan segala cara. Bahkan mereka tega menukar sekarung gandum dengan pasir, begitu teraniayanya sebagian penduduk negeri itu sehingga banyak yanh harus merasakan kelaparan di malam hari.

Allah SWT mengutus Nabi Syu’aib AS untuk menolong mereka, beliau berdakwah agar kaum Madyan tidak menyembah berhala. Selain itu beliau menolong kaum yang lemah dan meminta para pembesar untuk menghukum pedagang yang curang dan mengurangi takaran timbangan mereka, serta mengingatkan akan azab dari Allah SWT

Namun apa yang terjadi? Sang pembesar menantang azab diturunkan bagi mereka, sebagai bukti bahwa Nabi Syu’aib AS tidak berdusta. Tidak berhenti sampai disitu, orang – orang kafir mulai berlaku kasar, bahkan mereka tak segan – segan berani menyiksa orang mukmin.

Hingga suatu ketika mereka meminta Nabi Syu’aib AS untuk memilih : kembali menyembah berhala atau diusir dari Madyan. Beliau mengucapkan dengan lantang bahwa kepada Allah SWT beliau dan kaum mukmin bertawakkal. Seketika para pengikut beliau diusir agar pergi saat itu juga.

Setelah beliau dan pengikutnya pergi, tak lama kemudian Allah SWT menurunkan azabNya…udara panas melanda Madyan, bumi berguncang dan petir menggelegar memenuhi langit.

Astaghfirullohal’adzim… semoga negeri ini terhindar dari azab Allah SWT. Semoga pemimpin yang melakukan kecurangan yang merugikan rakyat dibukakan hatinya, dijernihkan pikirannya agar kembali ke jalan Allah SWT… aamiin

Ternyata Nabiku Idolaku tidak hanya untuk anak – anak, dibaca bersama orang tua lebih menyenangkan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *