February 23, 2016 Karakter Anak, Dibentuk atau Terbentuk?

Karakter Anak, Dibentuk atau Terbentuk?

Setelah si kecil berusia 3 tahun, kita akan bisa melihat karakter mereka makin nyata. ada yang pendiam, ada yang rewel dan cengeng, ada yang penurut ada juga yang senang membantah. Terhadang kita bertanya, kok dia seperti itu sih sifatnya, ngikut ayah atau bundanya ya? Hmmmm, sebenarnya karakter atau kumpulan sifat anak itu dibentuk atau terbentuk dengan sendirinya sih?

Kedua-dua pendapat itu benar. Seperti kita ingat, teori psikoanalisa selalu percaya bahwa anak lahir seperti kertas putih dan karenanya orangtua yang membesarkannyalah yang akan menuliskan sifat dan karakter si anak. Bila orangtua menuliskan dengan tulisan bagus, rapih dan penuh warna maka akan baguslah buku si anak, namun bila sebaliknya maka akan kumal pula buku si kecil.

Orangtua bisa membentuk sifat dan karakter anak akan menjadi seperti apa. berikut ini adalah 3 hal penting yang harus dilakukan orangtua dalam pola asuh anak terutama dalam pembentukan karakter.

1. Konsisten. terapkan pendidikan pengasuhan yang konsisten. Bila orangtua mau anak selalu jujur maka bila anak berkata jujur harus mendapatkan pujian sebaliknya bila tidak jujur harus ada konsekwensi dan begitu juga untuk semua karakteristik dasar yang mau dibentuk Konsistensi juga termasuk dalam sikap orangtua yang seharusnya juga mencerminkan apa yang diajarkan pada anak.

2. Konsekwen. Setiap pembentukan sifat ataupun perilaku selalu ada konsekwensinya dan anak harus diajarkan tentang hal ini. Anak harus diberitahu bahwa bila ia melakukan hal yang diminta oleh orangtuanya maka ia akan mendapatkan reward sebaliknya bila tidak melakukan maka akan ada konsekwensinya. Berikan konsekwensi yang mendidik dan tidak bersifat kekerasan fisik.

3. Berkesinambungan. Membentuk sifat dan karakter anak tentu saja bukan kerja satu atau dua malam saja. melainkan sepanjang waktu, sedikitnya selama 5 tahun pertama yang harus selalu dipantau dan dikuatkan kembali pada tahap perkembangan selanjutnya.

Nah, apabila orangtua tidak membentuk karakter anak secara sengaja, maka secara tidak sengaja karakter anak akan terbentuk dari apa yang diamati anak dari lingkungan sekitarnya. Teori psikososial mempercayai bahwa karakteristik anak terbentuk dari apa yang diamati dan dipelajarinya dari lingkungan sekitarnya.
Jadi mau pilih mana? Sungguh-sungguh membentuk karakter mereka atau membiarkannya terbentuk dengan sendirinya?

Buku bisa menjadi salah satu alat bantu orangtua dalam membentu karakter anak. Mengingat diusia balita anak sangat mudah mengidentifikasikan dirinya dengan tokok yang dekat dengannya, maka buku-buku berkualitas seperti Halo Balita akan sangat membantu orangtua membentuk karakter anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *