January 22, 2015

Cerdaskan Anak Dengan Dongeng

Oleh : Verawati, S.Psi

Pendahuluan

Seberapa sering Anda membacakan dongeng untuk Anak? Jika jawabannya jarang, coba luangkan waktu lebih banyak karena mendongeng. Jika selama ini Anda menganggap dongeng bukan hal yang penting untuk anak, sebaiknya Anda rubah persepsi tersebut. Karena ternyata aktifitas yang biasanya dilakukan menjelang tidur ini banyak sekali manfaatnya bagi anak. Akan tetapi kondisi saat ini Kesibukan menjadi salah satu alasan kurangnya waktu orangtua untuk anak-anaknya.

Faktor kesibukan orangtua ternyata tidak menjadi alasan satu-satunya, pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

Adalah hal yang cukup memprihatinkan, menyaksikan anak-anak, generasi masa depan bangsa kita, saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya didepan pesawat televisi , hanyut dalam  permainan play station, dan sebagainya. Sampai saat ini kegiatan mendongeng sudah banyak ditinggalkan oleh para orangtua, karena dianggap merepotkan dan membuat mereka semakin lelah setelah seharian bekerja, sehingga tidak banyak lagi yang  meluangkan waktunya bagi sang buah hati untuk bercerita, mendongeng, atau  membacakan buku cerita. Akibatnya, hubungan batin antara orang tua dan anak yang  terbangun melalui proses bercerita itu semakin memudar. Kita semakin merasakan, generasi anak – anak kita tumbuh dan berkembang semakin menjauh dari kasih sayang  yang tulus. Orang tua kurang  menyadari bahwa dengan bercerita, mendongeng, atau  membacakan buku, tersirat pesan yang mulia bahwa orang tua mengasihi, peduli, menggembirakan, dan  memberikan  perhatian. Ini adalah gizi bagi perkembangan jiwa anak.

Mendongeng merupakan kegiatan positif yang bisa mengeratkan hubungan ibu dan anak. “Mendongeng sebenarnya bukanlah kegiatan untuk menidurkan anak, tapi lebih berfungsi untuk meningkatkan kedekatan ibu dan anak, dan mengembangkan kemampuan otak anak dan mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan emosional.” ungkap psikolog anak, Efnie Indrianie, M.Psi.

Dongeng

1.     Pengertian Dongeng

Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Terkadang kisah dongeng bisa membawa pendengarnya terhanyut ke dalam dunia fantasi, tergantung cara penyampaian dongeng tersebut dan pesan moral yang disampaikan. Kisah dongeng yang sering diangkat menjadi saduran dari kebanyakan sastrawan dan penerbit, lalu dimodifikasi menjadi dongeng modern.

Hal-hal yang perlu diketahui mengenai dongeng :

§  Dongeng dalam pengertian yang lebih luas merupakan pengungkapan diri manusia, tempat mencari hiburan dan memenuhi angan-angannya.

§  Dalam Ensiklopedi Indonesia, dongeng memiliki pengertian cerita singkat tentang hal-hal aneh dan tidak masuk akal, berbagai keajaiban dan kesaktian yang biasanya mengisahkan dewa, raja, pangeran, dan putri.

§  Pada umumnya, dongeng tidak diketahui pengarangnya dan terkadang hanya diketahui nama pengumpul/ penyadurnya.

 2.    Jenis Dongeng

Cerita atau yang terkandung dalam dongeng bisa disampaikan secara sederhana dan mengandung pesan moral yang baik. Dongeng tersebut dibagi dalam beberapa jenis yaitu:

  • Fabel, yaitu dongeng yang berisi tentang dunia binatang. Dongeng ini yang paling disenangai oleh Si Kecil karena daya ketertarikan anak-anak terhadap binatang masih sangat tinggi. Contohnya Dongeng Kancil dengan Buaya.
  • Legenda, yaitu dongeng yang berhubungan dengan keajaiban alam, biasanya berisi tentang kejadian suatu tempat. Contohnya adalah dongeng terjadinya Danau Toba, terjadinya gunung Tangkuban Perahu.
  • Mite, yaitu dongeng tentang dewa-dewa dan makhluk halus. Isi ceritanya tentang kepercayaan animisme. Contohnya adalah Dongeng Nyi Roro Kidul.
  • Sage, yaitu dongeng yang banyak mengandung unsur sejarah. Karena diceritakan dari mulut ke mulut, lama kelamaan terdapat tambahan cerita yang bersifat khayal. Contohnya adalah Dongeng Jaka Tingkir
  • Parabel, yaitu dongeng yang banyak mengandung nilai-nilai pendidikan atau cerita pendek dan sederhana yang mengandung ibarat atau hikmah sebagai pedoman hidup. Contohnya adalah dongeng Si Malin Kundang.

Menstimulasi Kecerdasan Anak dengan Dongeng

Kelima panca indera pada anak merespon dan otak  menyerap semua informasi yang diterima. Sebagai contoh, anak yang terbiasa mendengar kata-kata kotor, akan meniru dan mengucapkannya. Anak yang dibiasakan jajan  akan selalu meminta jajan. Anak yang diajarkan  menjaga kebersihan  tidak akan tinggal diam melihat sampah. Dan anak yang dibacakan buku, akan meminta buku.  Membacakan buku juga dapat menjadi  obat. Buku  dapat  meringankan  anak  yang  sedang  sakit dan  menidurkan  anak  yang  tidak mau tidur. Buku menjadi seperti susu. Anak akan  selalu meminta dan meminta  lagi.

The golden age, usia keemasan seorang manusia, dimana kualitas otak anak sangat ditentukan oleh tiga tahun pertama kehidupannya. Saat kelahiran, otak memiliki satu triliun sel otak. Tidak lama setelah kelahiran, otak bayi menghasilkan bertriliun-triliun sambungan (sinapsis) antar  neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan. Proses inilah yang membentuk pengalaman dan akan dibawanya seumur hidup.

Melalui suatu proses yang mirip teori Darwin, otak akan memusnahkan sambungan yang jarang digunakan atau yang tidak pernah digunakan. Banyaknya pengalaman indra yang didapat akan  menentukan sambungan  mana yang dipertahankan dan mana yang berguguran. Sambungan yang berlebih dalam otak anak akan berguguran secara drastis sebelum usia 10 tahun. Jadi, yang menetap adalah otak dengan pola emosi dan pikiran individual anak, yang terbentuk dari pengalaman kehidupan sebelumnya. Sambungan-sambungan baru memang terus terbentuk seumur hidup, dan orang dewasa selalu memelihara sambungan itu dengan membaca dan belajar. Namun otak tidak akan mampu menguasai kemahiran baru atau bangkit kembali dari kekeliruan semudah yang terjadi pada masa kanak-kanak. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengalaman adalah arsitek utama otak.

Bahkan anak yang sering diperdengarkan cerita sejak dalam masih kandungan akan memberikan dampak positif pada saat ia dewasa. Anak akan memiliki kemampuan-kemampuan yang tidak diajari sebelumnya atau problem solving yang mungkin tidak pernah terpikir oleh Anda sebelumnya. Hal ini dikarenakan informasi yang didapat dari cerita dongeng Anda akan tersimpan pada memori jangka panjangnya. Di dalam otak anak terdapat tonjolan bernama girus yang berfungsi untuk merekam kode-kode informasi. Semakin banyak informasi, pembelajaran dan simulasi yang diberikan kepada anak maka semakin banyak terbentuk girus pada otaknya.

Anak yang sering distimulasi berulang-ulang dan bervariasi sejak dini, kaya akan pengalaman dan akan menghasilkan otak yang kaya pula. Bila orang tua mengabaikan masa keemasan  ini, sama artinya  dengan  membiarkan  potensinya  terbuang. Orang tua yang peduli tidak akan menyia-nyiakan sel-sel otak anak yang ‘memohon’ untuk diberi stimulasi. Merangsang kelima panca indra merupakan cara yang disarankan para ahli. Selalu mengajak anak berbicara, mendidiknya dengan penuh kasih sayang, mengajaknya bermain, bernyanyi, danbanyak hal dapat dilakukan oleh orang tua. Namun jangan lupakan aktivitas yang satu ini, yaitu membacakan buku. Kegiatan ini sesungguhnya mudah dan dapat sekaligus merangsang kelima panca indra anak. Ketika anak dibacakan buku, matanya melihatgambar dan telinganya mendengar. Tentu saja indra penglihatan dan pendengaran anak akan selalu terstimulasi.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, manfaat membaca-kan buku akan semakin terasa. Membacakan buku dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) anak. Membacakan buku akan menjadi bekal yang berharga agar anak dapat menjadi manusia yang berkualitas di kala dewasa. Seorang anak dibawah umur belumlah mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memunculkan potensi yang ada pada dirinya. Rangsangan yang ia terima dari luar akan sangat membantu untuk dapat mengembangkan bahkan menemukan potensi kecerdasan pada diri anak. Sebuah kecerdasan yang tadinya tidak terlihat, dengan rangsangan yang tepat bisa jadi akan muncul sebuah prestasi anak.

Pakar psikologi anak Dr. Seto Mulyadi juga menyatakan bahwa usia balita merupakan masa penting bagi perkembangan potensi seseorang, termasuk rasa percaya dirinya. Perkembangan potensi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, karena anak akan dengan cepat menirukan dan belajar dari apa yang di lihat, di dengar, dan dirasakan. Dengan demikian merupakan kewajiban para orangtua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing keluar potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri. Di samping itu orang tua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap. Menurut pendapat Kak Seto, anak dapat dirangsang untuk mengembangkan daya imajinasinya, dengan mendengarkan dongeng dari orang tuanya. Misalnya, dari dongeng yang didengar, anak akanmembayangkan peri cantik yang baik hati atau kancil yang cerdik. Kemudian secara tidak langsung anak juga dapat diajak untuk melontarkan gagasannya pada satu masalah.

Peran orangtua yang berkualitas dalam mengembangkan kecerdasan dan perkembangan emosi anak secara bertahap, akan mendorong potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya. Membacakan cerita tidak hanya menghiburnya, tapi juga bisamengembangkan kecerdasan sekaligus. Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan dari buku atau dongeng yang telah sangat melekat di benak orang tua sehingga dapat disampaikan secara lisan dengan improvisasi di sana sini. Buktinya tokoh dalam dongeng akan selalu diingatoleh anak bahkan hingga mereka beranjak dewasa, baik tokoh yang baik maupun tokoh yang jahat.

           

Manfaat Dongeng

1.       Mengembangkan Daya Imajinasi Anak

Perlu kita ketahui bahwa dunia anak adalah dunia imajinasi. Jadi anak mempunyai dunianya sendiri dan tak jarang mereka berbicara denga teman khayalannya. Dengan daya imajinasi yang masih sangat bagus ini, maka kita sebagai orang tua harus bisa mengarahkannya kearah yang positif dan tetap terkontrol. Dengan dongeng anak-anak maka inilah cara terbaik untuk mengarahkan mereka kearah yang baik.

Selain membacakan cerita atau dongeng dari buku, Anda bisa membuat cerita singkat tanpa panduan buku. Kemudian, pandulah anak Anda untuk melanjutkan cerita tersebut  berdasarkan imaginasi mereka sendiri. Ajukan juga beberapa pertanyaan untuk memancing daya imaginasinya. Mendongeng juga membantu merangsang berbagi aspek perkembangan anak, terutama sisi intelektual atau kecerdasan dan emosi.

2.      Meningkatkan Keterampilan dalam Berbahasa

Dongeng merupakan stimulasi dini yang mampu merangsang keterampilan berbahasa pada anak-anak. Perlu kita ketahui bahwa cerita dongeng anak-anak mampu merangsang anak-anak terutama anak perempuan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa mereka. Hal ini dikarenakan anak perempuan lebih fokus dan konsentrasi daripada anak laki-laki.

Kisah-kisah dongeng yang mengandung cerita positif tentang perilaku dan sebagainya membuat anak-anak menjadi lebih mudah dalam menyerap tutur kata yang sopan. mendongeng merupakan cara yang sangat baik untuk mengembangkan daya pemahaman dan bicara, mendengarkan dan berkonsentrasi , serta dapat menambah perbendaharaan kata baru. Adanya cerita yang berupa narasi dalam dongeng yang diceritakan lisan akan meningkatkan fungsi analisa anak menjadi dua kali lebih besar. Semakin banyak anak diajak untuk berkomunikasi, semakin cepat perkembangan fungsi analisanya.

Semakin banyak membaca, semakin banyak tahu. Orang tua bisa menggunakan dongeng sebagai media untuk memperkenalkan kosa kata asing pada anak yang pastinya akan berguna disekolahan nantinya. Anak yang cukup banyak didongengkan akan lebih cepat belajar bahasa, kemampuan verbal adalah kemampuan awal yang dimiliki anak-anak dan inilah mengapa otak kanan mereka lebih berkembang yang menjadikan anak-anak dengan kreativitas dan imajinasi yang tinggi serta mampu menghasilkan sesuatu yang sifatnya inovatif dan original.

3.       Membangkitkan Minat Baca Anak

Jika ingin memiliki anak yang mempunyai minat baca yang baik, maka mendongeng adalah jalan menuju hasil tersebut. Dengan memberikan cerita dongeng anak-anak, maka anak-anak akan tertarik dan rasa penasaran ini membuat mereka ingin mencari tahu. Inilah dimana keinginan untuk membaca menjadi semakin meningkat. Dengan membacakan buku cerita yang menarik kepada anak adalah cara paling mudah yang bisa kita lakukan. Saat anak memasuki usia sekolah, orang tua tak perlu lagi bersusah payah menyuruh anak belajar atau membaca buku, karena anak telah mencintai buku. Buku memuaskan rasa ingin tahunya yang besar.

4.      Membangun Kecerdasan Emosional Anak

Seperti yang kita tahu bahwa anak-anak mempunyai kesulitan dalam mempelajari nilai-nilai moral dalam kehidupan. Dengan dongeng anak-anak maka kita bisa memberikan contoh melalui tokoh dalam cerita yang kita dongengkan. Dongeng anak-anak akan membantu anak dalam menyerap nilai-nilai emosional pada sesama. Tidak bisa dipungkiri bahwa kecerdasan emosional juga penting disamping kecerdasan kognitif. Kecerdasan emosional sangat penting bagi kehidupan sosial mereka kelak.

Dari dongeng yang diberikan, pastinya memiliki karakter dan tokoh yang berbeda-beda. Sebagai orang tua, Anda harus memahami makna dari dongeng tersebut, sehingga Anda bisa memberikan penekanan tertentu  pada dialog dan ekspresi. Selain itu, Anda juga bisa menceritakan emosi para tokoh seperti emosi negatif dan positif. Hal ini akan membantu anak dengan masalah agresifitas dan mengajarkan untuk berempati pada sesama temannya.

5.      Membentuk Rasa Empati Anak

Melalui stimulasi cerita dongeng anak, kepekaan anak pada usia 3-7 tahun akan dirangsang mengenai situasai sosial disekitar mereka. Dengan metode dongeng untuk anak ini maka mereka akan belajar berempati terhadap lingkungan sekitar. Stimulasi yang akan lebih berhasil adalah dengan merangsang indera pendengarannya. Penting bagi kita memberikan stimulasi ini untuk memberikan mereka bekal yang baik untuk masa depannya. Dengan cerita-cerita dongeng yang mendidik, maka anak akan dengan mudah menyerap nilai positif yang akan menjadikan mereka anak yang berempati dengan orang lain.

6.      Media Menanamkan Nilai dan Etika

Dongeng merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, termasuk menimbulkan rasa empati dan simpati anak. Nilai-nilai yang bisa dipetik dari dongeng adalah nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, dan lain sebagainya. Dari kegiatan bercerita, anak diharapkan mengikuti tingkah laku yang positif dari karakter yang baik di dalam cerita atau dongeng. Ia akan belajar pada pengelaman-pengalaman sang tokoh dalam dongeng tersebut. Setelah itu memilah mana yang dapat dijadikan panutan olehnya sehingga membentuknya menjadi moralitas yang di pegang sampai dewasa.

Maka agar tidak terjadi penanaman bibit moral yang tidak baik, orang tua sebaiknya memberikan penafsiran secara rasional,konstruktif, dan tidak terjebak pada pemahaman yang tidak rasional dan mengada-ada. Kekuatan dongeng terletak pada kemampuan memberi ruang lingkup, perasaan,dan psikomotorik. Dongeng yang dibacakan oleh orang tua akan semakin menstimulasi perkembangan anak sebab didalamnya terdapat sentuhan afektif yang tidak terdapat di dalam film, buku, televisi maupun video. Anak-anak cenderung berpikir konkrit, sedangkan nilai moral itu abstrak. Tapi dengan cerita, maka nilai moral bisa ditanamkan.

Melalui dongeng anak dapat belajar mengakui kelebihan orang lain sehingga menjadi lebih sportif. Melalui dialog batin dengan cerita yang didongengkan, tanpa sadar anak telah menyerap beberapa sifat positif, seperti keberanian, kejujuran, rasa cinta tanah air, kemanusiaan, menyayangi binatang, serta membedakan hal-hal yang baik dan buruk. Mendongeng dapat juga dijadikan sebagai media pembentukan kepribadian dan moralitas anak usia dini.

 7.      Mempererat Ikatan Batin

Bagi orang tua yang memiliki kesibukan yang padat, mendongeng adalah salah satu trik untuk mendekatkan diri pada anak Anda. Kesibukan Anda membuat Anda tidak dapat bermain dengan si kecil setiap saat. Oleh karena itu, pergunakan waktu senggang Anda dirumah untuk memberikan cerita atau dongeng pada anak Anda.

Hubungan antara anak dan orangtua harus tetap dijaga karena hal ini akan berpengaruh besar terhadap perkembangan psikologi anak. Jangan sampai anak merasa kekurangan kasih sayang dari orangtuanya, apalagi jika kedua orangtua bekerja dan memiliki sedikit waktu untuk anak. Mendongeng adalah kesempatan yang tepat untuk menjalin hubungan baik antara orangtua dan anak.

Meluangkan sedikit waktu setelah pulang kantor untuk mendongeng bukanlah hal yang sulit. Lakukanlah untuk anak anda, hanya beberapa menit untuk membantunya mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya, dan bunda akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan anak-anak.

Belajar Bersama Anak Melalui Dongeng

Banyak orang tua melarang anak-anaknya untuk membaca buku cerita di hari-hari sekolah. Terkadang mereka beranggapan bahwa membaca buku cerita akan mengganggu anak dalam belajar. Sebenarnya, asalkan orang tua bisa menerapkan disiplin waktu serta dijadwalkan dengan benar, tidak akan mengganggu belajar anak. Bagi orang tua yang masih memiliki balita, membaca buku cerita atau mendongeng bahkan bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan. Caranya bisa bermacam-macam, antara lain:

1.      Bagi Anda yang hobi mendongeng tentang binatang, anak yang masih balita akan lebih menyukai jika Anda berbicara sambil meniru suara binatang-binatang yang ada dalam tokoh cerita tersebut. Bila perlu gunakan boneka tangan untuk menghidupkan suasana. Saat mendongeng, bisa juga disisipkan karakter si binatang, kebiasaan-kebiasaan si binatang setiap harinya, hingga pesan-pesan moral tentang etika.

2.      Buku cerita bergambar dengan bentuk tulisan yang menarik dan berwarna-warni juga bisa menjadi sarana orang tua untuk sekaligus mengajarkan huruf-huruf dan angka, sehingga akan lebih mudah bagi anak untuk belajar membaca. Cara belajar membaca seperti ini jauh lebih efektif dari pada cara belajar yang konvensional.

3.      Mendongeng dengan buku cerita yang bergambar ternyata juga bisa merangsang daya imajinasi anak untuk mengembangkan cerita berdasarkan gambar yang ia lihat. Contoh, saat ia melihat gambar mobil pada satu sisi halaman walaupun ia belum bisa membaca, si anak dengan sendirinya akan mengarang cerita yang berkaitan dengan mobil tersebut. Hal ini akan memberi efek yang positf bila orang tua bisa mengarahkan secara benar. Biarkan dia mengembangkan imajinasinya.

4.      Untuk merangsang pemikirannya, bisa juga dipilihkan bacaan-bacaan edukatif yang mampu membuat mereka berpikir secara kritis.

5.      Untuk memotivasi dan memacu semangat belajar mereka, Anda bisa juga mendongengkan cerita-cerita para penemu. Dengan demikian bukan tak mungkin bila suatu saat mereka ingin sesukses tokoh penemu favorit mereka.

Usia Yang Tepat Mendongengkan Cerita Kepada Anak

Jawabannya adalah semakin dini semakin baik, bahkan kita sudah bisa emulainya ketika anak berusia 6 bulan. Tentunya kita tidak memberi dongeng atau erita yang utuh karena anak belum mengerti, cukup yang sederhana saja. Misalnya, cerita tentang kelinci lalu ditambahkan bahwa kelinci berwarna putih dan suka makan wortel. Memilih cerita merupakan faktor penting yang harus diperhatikan juga oleh pendongeng sebab pemahaman anak berbeda-beda sesuai dengan usianya. Oleh karena itu carilah cerita yang kira-kira dapat dipahami oleh anak dan cocok dengan pengalaman mereka.

Usia 0-2 tahun

Ini merupakan awal masa perkembangan sensori motorik sehingga semua tingkah laku dan pemikiran anak didasari pada hal itu. Untuk anak seusia ini, pilihlah cerita dengan obyek yang ada disekitar lingkungan anak. Hal ini disebabkan karena anak memerlukan visualisasi dari apa yang kita ceritakan. Untuk mempermudahnya, pilih sesuatu yang sudah ia kenal, misalnya kita bisa mengarang cerita tentang sepatu atau kucing yang ada di rumah. Dengan demikian anak makin mudah memahami cerita karena obyek yang ada dalam cerita sangat akrab dengan kehidupan sehari-harinya. Jika Anda memilih bercerita dengan bantuan buku, carilah buku dengan sedikit teks, tapi sarat gambar. Ini berfungsi agar anak tidak bosan dan akhirnya berkurang minatnya. Anggaplah buku itu sebagai bagian dari mainan dan hiburan.

Usia 2-4 tahun

Tahapan ini adalah usia pembentukan. Banyak sekali konsep-konsep baru yang harus dipelajari anak pada usia ini. Di usia 2-4 tahun anak sangat tertarik mempelajari manusia dan kehidupan. Itulah sebabnya mereka suka sekali meniru tingkah laku orang dewasa. Misalnya, diungkapkan lewat bermain tamu-tamuan, dokter-dokteran, dan lainnya. Bisa juga orang tua menceritakan tentang karakter-karakter binatang yang disesuaikan dengan keseharian anak. Hal ini bisa dilakukan karena anak sudah pandai berfantasi. Fantasi ini mencapai puncaknya pada saat anak berusia 4 tahun. Begitu tingginya daya imajinasi anak pada usia ini, kadang ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi. Itulah sebabnya di usia ini anak amat takut pada kegelapan yang menakutkan.

Usia 4-7 tahun

Di usia ini anak sudah bisa diperkenalkan pada dongeng-dongeng yang lebih kompleks,  Mereka juga sudah mulai menyukai cerita-cerita tentang terjadinya suatu benda dan bagaimana cara kerja sesuatu. Inilah kesempatan orang tua mendorong minat anak. Saat anak duduk di bangku Sekolah Dasar pun, dongeng masih efektif untuk diberikan. Bukankah di sekolah juga tetap diajarkan tentang cerita fiksi dan non fiksi? Salah satu fungsi dongeng adalah enjoyable (memberikan hiburan). Hiburan juga diperlukan untuk perkembangan anak. Selain itu dongeng juga meningkatkan apreseasi anak terhadap sastra. Sumber cerita tidak harus dari buku tetapi bisa juga dari pengalaman Anda sebagai pendongeng pada waktu masih kecil. Misalnya, cerita tentang ayah dan ibu pada waktu kecil, saat sang ayah main layang-layang atau cerita ibunya yang menangis pada hari pertama masuk sekolah, dan lain-lain.

Cara Bercerita Atau Mendongeng Dengan Baik

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mendongeng sarana ataupun tanpa sarana, adalah:

§  Cerita harus diambil dari dunia anak sesuai dengan usia anak.

§  Usahakan selalu tercipta suasana gembira dalam mendongeng

§  Bahasa harus sederhana

§  Tuturkan cerita secara lambat ( tidak terburu-buru ) dan jelas. Semakin muda usia anak, sebaiknya suara semakin pelan agar ia dapat menyerap dan memahami cerita.

§  Nada suara sebaiknya normal dan santai.

§  Beri ekspresi pada yang Anda baca atau ceritakan, tapi jangan dilebih-lebihkan.

§  Variasikan kecepatan, irama suara sesuai dengan kebutuhan.

§  Variasikan nada suara pada berbagai karakter. Hal ini akan lebih mendramatisir dialog dan menghidupkan karakter yang ada. Lakukan secara wajar karena jika berlebihan, yang dingat anak justru suara Anda dan bukan ceritanya.

§   Jika ada ilustrasi, peganglah buku tersebut sehingga anak dapat melihatnya.

§  Gunakan telunjuk untuk menunjuk barisan kalimat yang sedang dibaca tanpa menutupi gambar ilustrasinya.

§  Alat bantu juga bisa digunakan. Misalnya, pensil, boneka tangan, dan sebagainya yang bisa digunakan sebagai sarana untuk bercerita. Penggunaan alat peraga ini biasanya sangat efektif untuk anak-anak yang masih kecil.

§  Sesekali libatkan anak dalam tokoh cerita yang didongengkan.

§  Beri tanggapan pada reaksi atau komentar yang dilontarkan anak atas cerita

§  yang Anda bacakan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas kita dapat melihat bahwa ternyata dongeng adalah hiburan yang menyenangkan buat anak. selain murah meriah dan tidak memerlukan biaya, ternyata dongeng bisa memberikan manfaat positif buat anak. Dongeng adalah sebuah sarana pendidikan karakter yang efek dan khasiatnya sudah dirasakan sejak zaman dahulu kala.

Dongeng bisa menjadi wahana untuk mengasah imajinasi dan alat pembuka bagi cakrawala anak serta mencerdaskan anak baik dalam aspek kognitif, emosi, maupun aspek psikomotor anak. Dongeng adalah salah satu media komunikasi guna menyampaikan beberapa pelajaran atau pesan moral pada anak. Dengan demikian, diharapkan anak dapat menerapkan apa yang sudah mereka dengarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mendongeng dapat dijadikan alternatif lain untuk memberikan nasihat kepada anak sehingga anak mau mendengarkan dan menurut apa yang dikatakan orang tua, guru maupun teman. Melalui dongeng anak juga akan terlatih pendengaran dan kepakaannya mengenai situasi sosial di sekitarnya. Oleh karena itu mulailah meluangkan waktu di sela-sela kesibukan untuk berkumpul bersama keluarga dan menjadikannya sesi mendongeng sekaligus sarana berkomunikasi sehingga terjalin hubungan yang hangat dalam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mersin escort sitesi - mersin escort bayan - escort mersin - mersin escort - www.mersinbakliyat.com